Makna Peribahasa Bugis 'Duami Riala Sappo Unganna Panasae Belo Kanukue

Suku Bugis adalah suku yang mendiami sebagian besar wilayah di Sulawesi Selatan.

Dok Pribadi Faisal
Pamong Budaya Sulsel Faisal 

TRIBUNTIMURWIKI.COM - Suku Bugis adalah suku yang mendiami sebagian besar wilayah di Sulawesi Selatan.

Suku Bugis juga memiliki kebudayan yang unik, mulai dari bahasa, tradisi, hingga perihal kesusastraan.

Suku Bugis juga meninggalkan ragam warisan kesusastraan dalam bentuk peribahasa.

Salah satu peribahasa Bugis, yakni duami riala sappo unganna panasaé bélo kanukué yang berarti hanya dua dijadikan pagar (perisai), bunga nangka dan hiasan kuku.

Orang Bugis mengutamakan harkat dan martabat dalam kehidupannya.

Untuk mewujudkan hal itu, mereka senantiasa menjaga sikap dan perbuatannya sesuai dengan nilai dan norma yang berlaku dalam masyarakat.

Untuk menjaga sikap dan perbuatannya itu, mereka berpedoman pada minimal dua nilai yaitu “bunga nangka” dan “hiasan kuku”.

Bunga nangka dan hiasan kuku mengandung makna simbolik.

Pamong Budaya BPNB Sulsel, Faisal
Pamong Budaya BPNB Sulsel, Faisal (Dok Faisal)

Dalam kehidupan sehari- hari, bunga nangka disebut leppu’. Kalau kata leppu’ ditulis dalam aksara lontarak, maka bisa dibaca lempu’, yang berarti lurus atau jujur.

Demikian juga hiasan kuku yang berarti pacci.

Kalau ditulis dalam aksara lontarak bisa dibaca paccing, yang berarti bersih atau suci.

Sifat lempu’ (jujur atau kejujuran) adalah salah satu nilai utama dalam kebudayaan Bugis.

Lempu’ juga berarti “ikhlas, benar, baik atau adil”.

Oleh karena itu, lawan dari lempu’ adalah culas, curang, dusta, khianat, seleweng, buruk, tipu, aniaya dan semacamnya.

Perwujudan nilai lempu’ harus dijunjung tinggi bagi seluruh warga masyarakat, tanpa ada pengecualian.

Lempu’ (kejujuran) bagaikan sebatang bambu yang terapung di air.

Kalau pangkalnya ditenggelamkan, maka ujungnya pasti muncul. Kalau ujungnya yang ditenggelamkan, maka pasti pangkalnya yang muncul.

Demikianlah kejujuran, kadang kala dicurangi dan ditutupi, tetapi pasti akan ketahuan dan terbongkar.

Selanjutnya adalah paccing (suci), yang pengertiannya pada hati yang suci atau hati nurani.

Dalam bahasa Bugis, biasa pula disebut ati macinnong (hati yang jernih).

Hati nurani ini merupakan sumber atau pendorong ke arah lahirnya sikap dan perbuatan yang baik dan benar sesuai dengan nilai dan norma yang berlaku dalam masyarakat.

Seperti jujur, disiplin, patuh, rajin, solider, empati, sopan, dan semacamnya.

Sumber informasi: Pamong Budaya Sulsel, Faisal.

--

(TRIBUNTIMURWIKI.COM/Nur Fajriani R)

Sumber: Tribun Timur
Ikuti kami di

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved