Vaksin Covid

BPOM Tak Rekomendasikan AstraZeneca

Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) kemudian melakukan kajian terkait keamanan vaksin tersebut. Kajian itu belum selesai dilakukan.

int
Ilustrasi Vaksin AstraZeneca 

TRIBUNTIMUR.COM – Vaksin AstraZeneca kini tengah menjadi sorotan. Belasan negara di Eropa kini menangguhkan penggunaan vaksin buatan perusahaan farmasi Inggris, AstraZeneca itu setelah terjadinya kasus pembekuan darah di sejumlah negara.

Di Indonesia setelah merebaknya kasus itu, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) kemudian melakukan kajian terkait keamanan vaksin tersebut. Kajian itu belum selesai dilakukan.

Namun dengan mengedepankan unsur-unsur kehati-hatian, BPOM mengatakan mereka saat ini tidak merekomendasikan vaksin itu digunakan untuk program vaksinasi nasional.

Kepala BPOM Penny K. Lukito menyebut pihaknya belum rampung melakukan kajian analisis bersama Ahli Imunisasi Nasional (ITAGI), Komite Nasional Penilai Obat, dan Komite Nasional Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (Komnas KIPI).

”BPOM juga melakukan komunikasi dengan WHO dan Badan Otoritas Obat negara lain untuk mendapatkan hasil investigasi dan kajian yang lengkap serta terkini terkait keamanan vaksin Covid-19 AstraZeneca. Selama masih dalam proses kajian, vaksin Covid-19 AstraZeneca direkomendasikan tidak digunakan," kata Penny dalam keterangannya Rabu (17/3).

Namun demikian, Penny menegaskan bahwa izin penggunaan darurat (EUA) vaksin AstraZeneca yang telah dikeluarkan pada 9 Maret lalu tidak dicabut. Ia juga mencontohkan Badan Otoritas Obat global di Inggris, Swedia, Australia, dan Kanada yang tetap menjalankan vaksinasi walaupun telah menerima informasi kasus serius yang diduga terkait vaksin AstraZeneca tersebut.

"Karena manfaat vaksin lebih besar dari risikonya. Hal ini didasarkan pada bukti ilmiah hasil uji klinik dimana tidak ada indikasi keterkaitan antara vaksin dengan kejadian pembekuan darah," jelasnya.

Lebih lanjut, Penny sekaligus menegaskan bahwa 1.113.600 vaksin AstraZeneca yang tiba di Indonesia 8 Maret itu berbeda dari golongan bets vaksin yang diduga menyebabkan insiden pembekuan darah itu. Penny menyebut vaksin Covid-19 AstraZeneca dengan nomor bets yang dimaksud, yakni ABV5300, ABV3025, dan ABV2856, tidak masuk ke Indonesia. Namun, ia mengaku pihaknya tetap bekerja atas prinsip kehati-hatian.

"Best produk vaksin covid-19 AstraZeneca yang telah masuk ke Indonesia tersebut berbeda dengan bets produk yang diduga menyebabkan pembekuan darah dan diproduksi di fasilitas produksi yang berbeda," ujarnya.

Kementerian Kesehatan sendiri sebelumnya telah memutuskan menunda sementara distribusi dan penggunaan AstraZeneca pada Senin (15/3) lalu. Diketahui, sebanyak 1.113.600 vaksin jadi AstraZeneca tiba di di Bandara Soekarno-Hatta di Tangerang, Banten, Senin (8/3) lalu. Kedatangan vaksin kali itu tercatat sebagai penerimaan vaksin tahap keenam di Indonesia.

Juru bicara vaksinasi Covid-19 Kementerian Kesehatan, Siti Nadia Tarmizi mengatakan, langkah penundaan distribusi vaksin AstraZeneca dilakukan demi kehati-hatian pelaksanaan vaksinasi. Ia mengatakan, penundaan distribusi bukan semata-mata terkait isu penggumpalan darah sebagai akibat dari penyuntikan Vaksin AstraZeneca.

"Karena kita tahu Badan POM bukan hanya mengeluarkan izin penggunaan darurat, tapi juga mengatur tentang indikasi serta rentang waktu yang paling optimal untuk mendapatkan immunogenitas yang terbaik ya," ujar Nadia dalam konferensi pers virtual, Selasa (16/3).

Lebih jauh, peninjauan kriteria dan rentang waktu yang dilakukan para ahli juga untuk menentukan kelompok prioritas yang tepat untuk disuntikan vaksin AstraZeneca. Alasannya masa simpan vaksin ini terbilang singkat yakni hingga akhir Mei 2021.

"Tetunya 1,1 juta dosis vaksin yang sudah kita terima ini harus kita prioritaskan pada tempat-tempat di mana sebelum masa shelf lifenya habis vaksin ini sudah kita gunakan untuk penyuntikan dosis pertama. Kalau memang nanti rentang waktunya itu adalah 9 sampai dengan 12 minggu," lanjut dia.

Meski memiliki waktu simpan terbatas, ia optimistis vaksin AstraZeneca tetap dapat digunakan sebelum masa simpannya berakhir.

"Kami cukup optimistis, karena kalau kita lihat saat ini dosis penyuntikan kita per hari itu sudah mencapai angka 250 ribu sampai dengan 350 ribu. Artinya kalau kita melakukan penyuntikan sebanyak 1,1 juta dosis vaksin. Kalau kita anggap saja, misalnya, kita mampu melaksanakan penyelidikan itu 200 ribu, berarti dalam kurun waktu 6 hari vaksinnya akan habis," ujar Nadia.(*)

Ikuti kami di
KOMENTAR
529 articles 182 0

Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.


Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved