Bissu

Komunitas Bissu Kini Makin Terpinggirkan

Para Bissu tidak jarang digambarkan dan dianggap sebagai waria, hal ini disebabkan oleh kesalahpahaman masyarakat awam dalam banyak sejarah

Editor: Mansur Amirullah
National Geographic
Komunitas Bissu 

TRIBUNTIMUR.COM - Di Sulawesi Selatan, ada sebuah komunitas yang dinamai Bissu. Di kalangan tertentu, bissu juga dikenal sebagai kaum pendeta yang gendernya dipandang sebagai campuran laki-laki dan perempuan dalam masyarakat Bugis dari Sulawesi Selatan.

Para Bissu tidak jarang digambarkan dan dianggap sebagai waria, hal ini disebabkan oleh kesalahpahaman masyarakat awam dalam banyak sejarah dan peran mereka dalam masyarakat. Untuk menjadi Bissu, seseorang harus memadukan semua aspek gender.

Dalam banyak contoh ini berarti mereka harus dilahirkan dengan kondisi interseks. Akan tetapi orang noninterseks dapat pula menjadi Bissu

Komunitas Bissu yang masih aktif sampai saat ini ada di Segerei Mandalle, Kabupaten Pangkep.

Salah seorang tokoh bissu di Segeri adalah Puang Upe. Beberapa waktu lalu, ia telihat risau ketika menceritakan regenerasi para bissu di masa mendatang.

Masyarakat lokal di daerahnya terlihat enggan untuk memesan mereka lagi dalam ritual-ritual adat.

Puang Upe pun bertanya-tanya, apakah masyarakat di era ini sudah lupa pada dewata yang sudah memberi hidup?

Itulah ungkapan Puang Upe, usai mementaskan Tarian Mabissu, tarian penghormatan pada dewata, Minggu malam (8/7), di Institut Seni Indonesia (ISI), Daerah Istimewa Yogyakarta, seperti dikutip dari https://nationalgeographic.grid.id/.

Dengan bahasa Bugis, Puang Upe menceritakan tentang keberadaan komunitas bissu di daerah Segeri Mandalle yang kian menyusut. Dari sebelumnya sekitar 40 orang, kini hanya menjadi 12 orang saja.

Katanya, sebagian bissu dibunuh dan sebagian lagi melepaskan atribut bissu untuk berpindah ke profesi lain seperti petani atau perias pengantin.

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved