Kisah Opu Daeng Risaju yang Rela Lepas Pin Bangsawan Demi Lawan Penjajah Belanda

Nama Opu Daeng Risaju, bagi sebagian masyarakat Sulsel, adalah sosok pahlawan perempuan yang gagah berani.

Editor: Muhammad Irham
ist
Pahlawan nasional asal Sulawesi Selatan, Opu Daeng Risaju 

TRIBUN-TIMUR.COM - Nama Opu Daeng Risaju, bagi sebagian masyarakat Sulsel, adalah sosok pahlawan perempuan yang gagah berani.

Terlahir sebagai bangsawan tanah Luwu, perempuan bernama asli Famajjah ini berjuang melawan Penjajah Belanda hingga titik darah penghabisan.

Dalam berjuang, Opu Daeng Risaju rela melepaskan gelar kebangsawanannya dan mengorbankan hartanya untuk perjuangan.

Siapa Opu Daeng Risaju?

Perempuan hebat yang memiliki nama asli Famajjah ini lahir pada tahun 1880 di Palopo, Luwu, Sulawesi Selatan.

Ia dilahirkan dari seorang ayah yang bernama Muhammad Abdullah To Bareseng dan ibu yang bernama Opu Daeng Mawellu.

Darah bangsawan mengalir pada diri Famajjah, hal ini dikarenakan ibunya masih keturunan (cicit) dari Raja Bone ke-22 yaitu La Temmasonge Matimoeri Malimongeng.

Pendidikan agama telah ditanamkan dalam dirinya semenjak kecil. Setiap harinya ia menghabiskan masa kanak-kanak dengan belajar mengaji Alquran kepada guru agama setempat.

Tidak hanya itu, ia juga mempelajari beberapa dasar keilmuan Islam, mulai dari fikih, nahwu, shorof, dan ilmu balaghah.

Kesibukanya dalam belajar agama tersebut mengakibatkan ia tidak pernah menempuh pendidikan umum di sekolah formal. Sehingga mengakibatkan kemampuan ilmu agamanya lebih menonjol dari pada pengetahuan umum.

Setelah beranjak dewasa, Famajjah dinikahkan dengan seorang ulama Bone yang bernama H. Muhammad Daud.

Suaminya tersebut merupakan anak dari rekan dagang ayahnya yang kemudian diangkat menjadi imam masjid istana Kerajaan Luwu.

Semenjak menikah, Famajjah mulai menggunakan gelar keturunan bangsawanya yaitu Opu Daeng Risaju. Dalam tradisi masyarakat Luwu, gelar Opu adalah sebuah tituler kebangsawanan yang diberikan kepada seseorang yang telah menikah.

Perjuangan Opu Daeng Risaju

Pada tahun 1905, Belanda melakukan ekspansi militer terhadap seluruh kerajaan yang berada di Sulawesi Selatan, tak terkecuali kerajaan Luwu.

Penjajahan tersebut mengakibatkan Opu Daeng Risaju bersama suami harus meninggalkan Palopo dan pindah menetap di Pare-pare.

Di tempat baru tersebut, Opu Daeng Risaju mulai aktif berperan di organisasi politik yang menentang penjajahan yaitu Partai Sarekat Islam Indonesia (PSII). Keaktifan Opu Daeng Risaju di PSII dimulai sejak mendaftarkan diri sebagai anggota SI pada tahun 1927.

Pengenalannya terhadap PSII telah memberikan banyak ilmu dan pengalaman bagi Opu Daeng Risaju. Pada tahun 1930, ketika telah kembali ke Palopo, Opu Daeng Risaju mulai mendirikan, sekaligus menjadi ketua pertama PSII cabang Palopo.

Perekrutan anggota PSII dilakukan oleh Opu Daeng Risaju dengan cara menyebarkan kartu anggota yang bertuliskan lafal syahadat.

Masyarakat sekitar sangat antusias dan menyambut baik kehadiran PSII. Hal ini dibuktikan dengan berdirinya beberapa distrik cabang PSII di berbagai daerah seperti Bajo, Belopa, Suli, Malangke, dan Malili. Penyebaran tersebut terjadi dalam jangka waktu yang relatif singkat.

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved